Incendies (Canada, 2010) (4,5/5)

Hah! Ternyata sudah sebulan lebih tidak menjamah blog ini. Susah sekali untuk konsisten menulis blog, menjaga mood itu luar biasa susah buat saya. (Makanya saya kagum lho sama blogger lain yang bisa konsisten nulis blog sampai sebulan bisa lebih dari 30 kali - artinya minimal sekali sehari!). Ditambah lagi bulan Maret ini bulan penuh cobaan - sampai bikin saya dua kali tepar gara-gara flu berat. Review saya setelah sekian lama ini adalah Incendies (2009), yang sebenarnya sudah nonton dari sebulanan lalu.. tapi terlalu malas saat itu juga untuk menuliskannnya, dan terlalu sayang pula kalau saya nggak nulis opini saya soal film ini. Yuk, lanjut...


Death is never the end of the story. It always leaves tracks.
RottenTomatoes: 92% | IMDb: 8,2/10 | NikenBicaraFilm: 4,5/5

Rated: R
Genre: Drama

Directed by Denis Villeneuve ; Produced by Luc Déry Kim, McCraw ; Screenplay by Denis Villeneuve, Valérie Beaugrand-Champagne ; Based on Incendies by Wajdi Mouawad ; Starring Lubna Azabal, Mélissa Désormeaux-Poulin, Maxim Gaudette, Rémy Girard, Allen Altman ; Music by Grégoire Hetzel ; Cinematography André Turpin ; Edited by Monique Dartonne ; Production company micro_scope ; Distributed by E1 Entertainment (Canada), Sony Pictures Classics (USA) ; Release dates 4 September 2010 (Telluride), 17 September 2010 (Canada) ; Running time 130 minutes ; Country Canada ; Language French, Arabic ; Budget $6.8 million

Story / Cerita / Sinopsis:
Sepasang dua bersaudara kembar Jeanne (Mélissa Désormeaux-Poulin) dan Simon (Maxim Gaudette) menerima wasiat aneh dari ibunya, Nawal (Lubna Azabal) yang baru saja meninggal. Wasiat itu meminta kedua saudara kembar itu untuk mencari ayah dan saudara laki-laki mereka. Jeanne dan Simon kemudian memutuskan untuk pergi ke Timur Tengah (nama negaranya tidak disebutkan), negeri asal sang ibu, untuk mengungkap masa lalu sang ibu.

Review / Resensi:
Waktu nge-review film-film Dennis Villeneuve yang Sicario (2015), banyak teman-teman yang ngerekomendasikan film Incendies (2010), film feature pertama sang sutradara yang meraih nominasi Oscar untuk Best Foreign Film. Dennis Villeneuve kebetulan punya track record yang menjanjikan lewat Prisoners (2013), Enemy (2013) dan yang baru saja main di bioskop: Sicario (2015). Anyway, Sicario is one of my fav's last year, dan saya excited sekali waktu tahu Villeneuve bakal jadi sutradara untuk sekuel Blade Runner (padahal Blade Runner bikin bosen lho, cuma saya paham kenapa Blade Runner bisa jadi cult-film, dan waktu tahu sekuelnya bakal ada Villeneuve dan Ryan Gosling tentu saja saya semangat!). Sejauh ini Villeneuve memang tidak mengecewakan - tinggal nunggu waktu aja sampai dia jadi sutradara kandidat Oscar - dan tampaknya Villeneuve ahlinya untuk bikin filmd engan nuansa suram, depresif, dingin sekaligus emosional. Kesan-kesan itulah yang tampaknya terangkum dengan sangat apik melalui Incendies, yang ngomong -ngomong menjadi film favorit Dennis Villeuneve kedua setelah Sicario. 


Incendies sudah mencuri hati saya waktu denger ada lagu You And Whose Army-nya Radiohead di bagian opening-nya (Oh yes, I am Radiohead's groupies, dan sejauh ini nggak pernah tahu ada film jelek yang pake lagu Radiohead atau Thom Yorke). Lantunan musik yang mellow dan suara falsett Thom Yorke mengiringi bagian pembuka film yang menampilkan tentara-tentara anak kecil yang tengah digunduli di sebuah rumah kosong, lantas kamera menyorot seorang anak kecil dengan tatapan nanar yang menyiratkan kemarahan. Persis potret yang bakal menang di ajang tahunan National Geographic. Ini adalah adegan pembuka yang suram, menyedihkan, sekaligus emosional - dan menjadi petunjuk paling krusial dari inti film Incendies ini sendiri. Dennis Villeuneve dengan piawai menampilkan sebuah adegan yang sulit dilupakan dengan visual yang indah.

Incendies merupakan sebuah personal-war movie. Negara yang menjadi bahan cerita konflik film ini sendiri memang tidak disebutkan secara eksplisit, namun menurut dugaan beberapa orang di forum film, nampaknya Incendies terinspirasi dari perang sipil di Libanon yang melibatkan perang antar agama Kristen dan Islam. Tidak ada yang menyenangkan dari perang, that's for sure. Incendies mencoba mengangkat tema ini secara lebih personal, bagaimana konflik yang melibatkan perang, hukum dan adat telah menyeret seseorang (dalam hal ini seorang wanita yang luar biasa tegar, Nawal) dalam pusaran kehidupan yang penuh dengan cobaan hidup yang totally depresif (Oh, where are you God?). Adegan perang dalam Incendies memang tidak penuh hingar bingar dan eksploitasi kekerasan, namun apa yang Villeneuve lakukan, melalui visualnya yang puitis dan alur plot yang pelan namun mencekam mampu mengantarkan kita kepada konflik perang sesungguhnya. Merasakan betapa beratnya menjadi Nawal. Simak saja adegan pembantaian di bis, yang menjadi momen paling tragis yang sukar dilupakan.

Dennis Villeneuve menghadirkan Incendies melalui potongan-potongan yang melompat-lompat antara masa kini (kisah pencarian sang kembar) dan masa lalu (kisah sang ibu). Namun ia mampu menghadirkannya dengan rapi, membuat kita bisa mengikuti kisahnya - ketika misteri demi misteri terungkap - dengan baik. Alurnya memang tergolong lamban bagi penonton awam, namun saya rasa ini memang bagian dari "kebiasaan" Villeneuve di film-filmnya yang saya tahu. Walaupun alurnya lamban berpotensi membosankan bagi yang nggak terbiasa, tapi ini adalah cara sempurna untuk membalut sebuah kisah pilu yang sangat sentimental ini. Jangan lupakan juga akting yang luar biasa dari artis Belgia-Maroko Lubna Azabal sebagai Nawal. 

SPOILER:
*Anyway, walaupun sejauh ini saya menyukai film-film Dennis Villeuneve, tapi saya selalu terganggu dengan bagian akhirnya, ketika twistnya mulai terkuak. Hal ini saya alami lewat Prisoners, Sicario dan juga Incendies. Entahlah, twist yang harusnya jadi momen klimaks tampaknya tetap dihadirkan Villeneuve dengan "caranya", sehingga twist yang harusnya bikin saya kaget malah kesannya jadi "lempeng". Saya nggak tahu apa cuma saya yang merasakan ini atau tidak, tapi sebagai contoh momen klimaks di film Incendies ini terasa tidak semengejutkan yang saya harapkan. Karena adegan terungkapnya misteri ini dihadirkan pula dengan alur yang lamban, membuat saya bisa menebak 10 detik lebih awal dari momen pentingnya. 


Overview:
Incendies adalah sebuah drama tragedi yang pilu. Sebuah kisah "kekuatan" di tengah kehidupan yang berat, akan tetapi sebenarnya Incendies secara keseluruhan tidak berupaya menampilkan optimisme. This is too depressed. Dennis Villenueve memulai karirnya dengan sebuah film yang luar biasa menawan. Suguhan visualnya artistik dan puitis, dan terbukti pula kemampuan Villeneuve dalam merangkai film dengan atmosfer yang dingin, kelam, mencekam sekaligus emosional. 

Komentar

  1. Baca sinopsisnya kayaknya seru ya. Oh iya nambahin nih, aku juga lempeng banget pas ending Prisoners hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya kaget sih yaa waktu tau akhirnya. Cuma efek kagetnya ga sampe shock kayak The Prestige misalnya.

      Hapus
  2. mungkin efek mba Niken sudah nonton "Oldboy" duluan jadi, pas twistnya mba niken udah ngga terlalu kaget lagi :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya sih. Tapi mungkin karena alurnya lambat kan, jadi otak ini uda nduga2 terus-terusan sebelum kejadian.

      Hapus

Posting Komentar

Your comment is always important to me. Share di sini!