Southpaw (2015) (4/5)


You got one shot. Go southpaw. Go southpaw on his ass. You got to go out there and you... beat his ass! 

RottenTomatoes: 61% | Metascore: 57/100  | IMDb: 7,5/10 | NikenBicaraFilm: 4/5


Rated: R
Genre: Drama

Directed by Antoine Fuqua ; Produced by Todd Black, Jason Blumenthal, Steve Tisch, Peter Riche, Alan Riche, Antoine Fuqua, Jerry Ye ; Written by Kurt Sutter ; Starring Jake Gyllenhaal, Forest Whitaker, Naomie Harris, Curtis "50 Cent" Jackson, Oona Laurence, Rachel McAdams ; Music by James Horner ; Cinematography Mauro Fiore ; Edited by John Refoua ; Production company WanDa Pictures, Riche Productions, Escape Artists, Fuqua Films ; Distributed by The Weinstein Company ; Release dates June 15, 2015 (SIFF), July 24, 2015 (United States) ; Running time 123 minutes ; Country United States; Language English ; Budget $30 million

Story / Cerita / Sinopsis :
Seorang petinju mantan juara dunia, Billy "The Great" Hope (Jake Gyllenhaal) harus bangkit dari keterpurukannya sekaligus memperbaiki hubungannya dengan anak perempuannya setelah kematian istrinya Maureen (Rachel McAdams).

Review / Resensi :
Saya nggak suka olahraga dan bukan penikmat olahraga, termasuk dalam hal ini olahraga tinju. Bagi saya dua orang main hantam-hantaman bukan pertunjukan yang menarik. Film-film dengan latar belakang olahraga tinju sudah banyak dibuat, rata-rata sih bagus: Rocky (1976), Raging Bull (1980), Million Dollar Baby (2004), The Fighter (2010), hingga yang dirilis di tahun yang sama dengan Southpaw, yaitu Creed (2015). Saya tidak terlalu tertarik dengan film olahraga, atau secara spesifik boxing movie, tapi lain persoalan kalau yang main Jake Gylenhaal, yang bikin saya (baru) naksir berat waktu main jadi pria dingin ambisius dan jahat di Nightcrawler (2015). Belum lagi Rachel McAdams – I love her! – yang menjadi love-partner karakter Jake Gyllenhaal, biarpun perannya cuma terbilang sebentar karena uda keburu mati duluan di awal film (ini bukan spoiler lho).

Satu hal yang menjadi kelemahan mendasar Southpaw yang disutradarai oleh Antoine Fuqua (Training Day) ada pada naskahnya yang klise, standar, dan terbilang medioker. From zero to hero (atau dalam film ini hero-zero-hero lagi) adalah cerita yang sudah terbilang umum di dunia film, apalagi film olahraga macam begini. Billy Hope (Jake Gyllenhaal) adalah petinju juara dunia dengan kehidupan harmonis bersama istrinya Maureen (Rachel McAdams) dan anak perempuannya, Leila (Oona Laurence). Namun akibat suatu insiden, istrinya mati terbunuh. Hal ini membuat Billy jadi depresi, keuangannya hancur, karirnya tamat, dan hubungan dengan anak perempuannya jadi berantakan ketika anak perempuannya harus dirawat oleh negara karena Billy dianggap tidak bertanggung jawab sebagai ayah. Di tengah kacaunya hidupnya, Billy bertemu dengan pelatih tinju Tick Wills (Forest Whitaker), dan ia kemudian mencoba bangkit dari keterpurukannya dan kembali memperoleh hak asuh anaknya. Sounds cliche, right?

Tapi, entah bagaimana saya lebih suka Southpaw ini dibandingkan Creed (2015) – yang sebenarnya mendapat lebih banyak pujian dari para kritikus. Creed yang menjadi regenerasi Rocky memang adalah film yang bagus – menampilkan tokoh new black version of Rocky dan menceritakan akhir perjalanan Rocky setelah sepuh – namun buat saya pribadi Creed kelewat boring dan baru menjelang akhir aja saya baru nyambung apa konflik personal sang tokoh utama. Southpaw mungkin memang ceritanya standar dan gampang dilupakan, namun Antonie Fuqua tahu bagaimana membuat film mainstream yang mudah disukai banyak orang, dengan memaksimalkan kualitas teknis filmnya yang terasa rough dan dinamis. Naskahnya sendiri cukup solid, dan unsur dramatisnya juga masih cukup menyentuh tanpa terasa hiperbolis. Saya lebih merasa terikat secara emosional dengan Billy dibandingkan karakter Adonis yang diperankan Michael B. Jordan di film Creed. Kalaupun ada kekurangan lainnya, mungkin Southpaw terlalu too good to be true, kebangkitan Billy Hope terasa sangat “happy ending” (eh ini spoiler ya), tapi bukankah itu yang penonton kebanyakan inginkan? And personally I don’t mind.

Ini adalah panggung pertunjukan yang baik bagi Jake Gyllenhaal, walaupun to be honest saya rada merasa heran juga kenapa harus petinju kulit putih yang jadi tokoh utama, bukannya di tinju dunia banyakan yang hebat -hebat orang kulit hitam? (Correct me if I’m wrong, because I know nothing about boxing -except Manny, or Mike Tyson, or Chris John). Akting Jake Gyllenhaal kuat dalam menampilkan Billy Hope sebagai petinju yang arogan, bad-tempered, dengan sedikit kesan kasar, dingin dan muram yang menjadi idaman perempuan (yes, we love bad boy). Ditambah lagi pesona Jake Gyllenhaal luar biasa, apalagi berantem babak belur gini, duh makin memikat di mata. Chemistry-nya dengan Rachel McAdams juga hidup dan meyakinkan, sehingga adegan kematian Maureen menjadi momen mendebarkan yang sangat mematahkan hati. Si kecil Leila (Oona Laurence) yang menjadi anak perempuan Billy dan Maureen juga bermain dengan cukup bagus, walaupun secara fisik saya heran kenapa dia dipilih karena gag ada mirip-miripnya sama Jake Gyllenhaal dan Rachel McAdams.

Overview:
Ceritanya mungkin standar dan terlampau klise, namun untungnya Antonie Fuqua tau benar bagaimana membuat film mainstream yang berkualitas. Kualitas teknisnya baik dan naskahnya sendiri cukup solid. Jake Gyllenhaal memberikan kemampuan terbaiknya, dukungan Rachel McAdams yang biarpun cuma muncul sebentar cukup membantu dalam memberikan chemistry memikat antara keduanya sehingga kita bisa terlibat cukup emosional dalam perjalanan hidup sang tokoh utama. Not a really good movie, but still worth to watch, and well I like Southpaw more than Creed. 

Komentar

Posting Komentar

You could agree or disagree. Share your thought!