Alien: Covenant (2017) (4/5)


We don't know what the fuck's out there.
RottenTomatoes: 71% | IMDb: 6.9/10 | Metascore: 65/100 | NikenBicaraFilm: 4/5


Rated: R
Genre: Action, Adventure, Science-Fiction

Directed by Ridley Scott ; Produced by Ridley Scott, Mark Huffam, Michael Schaefer, David Giler, Walter Hill ; Screenplay by John Logan, Dante Harper ; Story by Jack Paglen, Michael Green ; Starring Michael Fassbender, Katherine Waterston, Billy Crudup, Danny McBride, Carmen Ejogo, Demi├ín Bichir ; Music by Jed Kurzel, (Alien and Prometheus themes composed by Jerry Goldsmith and Marc Streitenfeld) ; Cinematography Dariusz Wolski ; Edited by Pietro Scalia ; Production company 20th Century Fox, Scott Free Productions, TSG Entertainment, Brandywine Productions ; Distributed by 20th Century Fox ; Release date May 19, 2017 (United States) ; Running time 123 minutes ; Country United States ; Language English ; Budget $97 million

Story / Cerita / Sinopsis :
Sebuah kapal koloni Covenant dengan misi mencari planet yang bisa ditinggali untuk dijadikan koloni baru menemukan sebuah planet misterius, tanpa menyadari bahaya yang tengah mengincar mereka. 

Review / Resensi :
Prometheus (2012) menciptakan 2 kubu antara mereka yang menganggap film itu keren, dan mereka yang menganggap film itu buruk. Kritikan utama terhadap Prometheus adalah karena film itu berusaha terlalu filosofis namun dipenuhi banyak plot-hole dan karakter scientist yang banyak melakukan hal bodoh. Biasanya kritikan ini dilontarkan oleh mereka yang merupakan fans film original Alien. Nah, berhubung saya sendiri nonton Alien jaman kecil dulu dan baru nonton ulang setelah nonton Prometheus, saya pribadi menganggap Prometheus film yang keren. Visualnya mempesona, thriller-nya dapet, saya suka gagasan filosofisnya tentang penciptaan, dan Prometheus adalah film pertama yang bikin saya notice bahwa ada aktor ganteng parah bernama Michael Fassbender. Emang banyak hal bodoh sih di film itu, tapi toh saya nggak terlalu memperhatikan. 

Sebagai sekuel dari Prometheus yang merupakan prekuel dari film original Alien, Alien: Covenant berusaha meredam kritikan yang pernah diterimanya. Alien: Covenant lebih cenderung bermain ke konsep awalnya, gabungan science-fiction dan body-horror, namun tetap dengan cerita yang lebih kompleks dan filosofis seperti yang dibawa oleh Prometheus yang disampaikan dengan lebih straightforward. Ada banyak missing pieces dari film Prometheus dan original movie-nya, dan Alien: Covenant berusaha memberikan informasi yang lebih banyak, walaupun masih banyak juga yang belum kita ketahui. But at least, penampakan Xenomorph-nya sudah lebih terlihat. Anyway, sebelumnya saya sendiri nggak pernah notice sampai sedetail itu lho tentang apa itu Xenomorph, facehugger, black goo, maupun monster yang ada di Alien: Covenant ini: Neomorph. Baru nulis review ini saya baru sadar kalo monsternya di tiap film beda-beda :D

Tidak perlu lagi mempertanyakan aspek visual Alien: Covenant yang cakep abizProperty dan visual design-nya mencirikan futuristik yang clean dan sleek, dengan atmosfer tone kebiru-biruan yang terasa dingin dan berkesan alienated, dan jangan lupakan penampakan monster-monsternya yang jelas jauh lebih modern dan keren dari original film Alien yang dirilis bertahun-tahun lalu. Scoring music dari Jed Kurzel juga menghadirkan kemegahan yang memukau sekaligus serem. Aspek thriller-nya mungkin tidak terlalu bikin kaget karena sedikit predictable (termasuk endingnya), tapi nuansa horrornya lewat adegan berdarah-darah cukup bikin tegang. Walaupun yaaa.... nggak se-gore yang saya harapkan. 

Abaikan premis konyol bahwa manusia adalah kreasi Engineer yang merupakan alien, sebagai seorang atheis nampaknya Ridley Scott berusaha mengungkapkan gagasannya tentang hakikat filosofis penciptaan melalui film ini (juga Prometheus, dan sebelumnya melalui Blade Runner (1982)). Saya sih nangkepnya the real perfect evil dari prekuel Alien series ini bukanlah si makhluk alien jahanam Xenomorph dan turunannya itu, namun robot android bernama David (Michael Fassbender). Pada dasarnya, David sedang mengeksplor kemampuan dirinya sebagai pencipta, ia sedang menjadi Tuhan. Dalam dialog singkatnya di bagian awal Alien: Covenant ketika David berbincang dengan Weyland (Guy Pearce), "ayah"nya yang menciptakannya, David secara implisit mengungkapkan bahwa ia jauh lebih baik dari penciptanya. Manusia tidak abadi, dan robot bisa abadi. Jadi, ia merasa lebih superior daripada manusia yang menciptakannya. 

Oram: "What do you believe in, David?" 
David: "Creation,"

Bagian terbaik dari Alien: Covenant juga adalah performa menakjubkan Michael Fassbender sebagai David dan Walter, robot android yang punya karakter yang berbeda. Sumpah, saya nggak sedang sekedar memuji berlebihan berhubung saya fans berat doi, tapi emang Michael Fassbender dan karakter David / Walter adalah salah satu faktor terbaik yang ada di film ini. And oh my God, sebagai fans garis keras doi gini gimana ga puas apa lihat ada double Michael Fassbender di layar bioskop? But then, watching David kissed Walter was like... what the fck? (Aku mau donk robot android macam David dan Walter, tapi jangan yang jahat...).

Nah, lalu sebagaimana permasalahan yang ada di Prometheus, kesalahan konyol utama yang ada di film ini adalah betapa bodohnya para kru pesawat Covenant. Dan justru entah bagaimana yang paling tolol adalah si Captain Oram (Billy Crudup) yang bikin saya mikir pantes aja dia sebelumnya ga kepilih jadi kapten utama (not because you're religious, but because you're so dumb!). Kru lain juga ga sama baiknya, ketika kerap melakukan hal-hal bodoh yang seolah-olah menyalahi prosedur standar tiba di planet asing atau bahkan habis diserang alien (that shower scene? seriously?). Sementara itu, Katherine Waterston sebagai Daniels didapuk sebagai the next Ripley dan Shaw, yang sayangnya kurang badass. Tokoh-tokoh dalam pesawat koloni Covenant juga digambarkan sebagai berpasang-pasangan, mungkin hendak menambahkan unsur emosional akan setiap kematian. Sayangnya saya kurang engage dengan karakter-karakternya, sehingga setiap kematian terasa blah.  

Overview :
Mungkin bukan salah satu yang terbaik dari keseluruhan franchise Alien, namun Alien: Covenant masih cukup menghibur bagi para fans dan penonton awam. At least buat fans, benang merah antara Prometheus dan latar belakang di Alien series-nya makin kelihatan. Aspek visualnya menawan, unsur thriller dan visual effect-nya juga cukup seru. Michael Fassbender dan karakter yang ia perankan sebagai David / Walter adalah bagian terbaik. Masih menyentuh gagasan filosofis, namun unsur horror-thriller nya tetap cukup dominan dan menyenangkan. Abaikan keriuhan para tokohnya yang kerap melakukan hal bodoh, dan Alien: Covenant tetaplah film yang cukup menegangkan.

*) Note:
Ngomong-ngomong, poster Alien: Covenant adalah salah satu poster film terbaik tahun ini. Sayang banget gitu kalau enggak saya cantumin di sini because it's too awesome:


Komentar

  1. pas bagian akhir film sebelum daniel ditidurkan, kan dia marah sama walter. itu marahnya karena apa ya mbak? sampe sekarang aku masih bingung....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena dia sadar itu bukan Walter tapi David :)

      Hapus

Posting Komentar

Your comment is always important to me. Share di sini!