Apa yang Salah Dari Pengabdi Setan (2017)


Ngomong-ngomong, berhubung film ini kayaknya udah ditonton banyak orang, jadi resensi yang saya tulis ini akan penuh dengan spoiler ya. Saya agak gatel untuk nulis review ini tanpa spoiler, berhubung saya merasa film Joko Anwar ini punya banyak masalah... Itulah kenapa saya kasih judul review ini: Apa yang Salah dari Pengabdi Setan (2017). Saya tahu, review ini akan sangat dibenci oleh banyak orang yang memuja film ini. Apalagi sesama blogger lain pun bilang film ini bagus banget.

Saya nggak pernah mengklaim diri saya sebagai kritikus, soalnya seorang kritikus harus bisa obyektif dalam menilai sebuah karya film. Nah, saya cenderung sangat subyektif dan suka-suka aja kalo ngereview, dan kalau mood nyinyir saya sudah keluar, saya akan terlihat seperti tukang nyinyir yang menyebalkan (istilahnya: pretentious asshole). Sebagai penikmat film, saya juga selalu punya problem dengan film-film Indonesia. Entahlah, saya pokoknya sombong banget dan ga nasionalis sama film lokal. Film Indonesia yang saya akuin bagus sejauh ini cuma The Raid, dan itupun sutradaranya ga asli Indonesia. (Don't make me start to talk about AADC2.. that movie is crap. Cuma menang yang main bukan aktris-aktris alay aja trus dipuji-puji ama orang). Karena itulah, sebagian besar ulasan saya di sini mungkin dilatarbelakangi ketidakadilan saya soal menilai film lokal.... 

Waktu Pengabdi Setan heboh banget main di bioskop (dan bahkan saat ini uda tembus 2 juta lebih penonton) dan dipuji-puji oleh banyak orang, saya sudah skeptis dan terlalu sombong untuk berangkat ke bioskop. Tapi trus saya baca review seseorang, yang bilang betapa "kacaunya" film ini. Malah justru ini yang bikin saya spontan berangkat ke bioskop karena penasaran. Bahkan malemnya saya ngebelain juga untuk nonton Pengabdi Setan versi tahun 1980 yang digarap Sisworo Gautama Putra, supaya bisa punya perbandingan untuk nulis review ini. 

Pertama-pertama, bagi yang merasa film Pengabdi Setan tahun 1980 lebih seram daripada film versi Joko Anwar, pasti adalah mereka yang punya sentimental nostalgia jaman kecil dengan film ini. Jelas, film Joko Anwar lebih baik dalam menampilkan segi horror yang lebih sesuai dengan selera tontonan generasi milenial. Kalau nonton film ori-nya, pasti kita malah jadi ketawa. Adegan-adegan horror Pengabdi Setan versi Joko Anwar beneran punya nilai jumpscare dan unpredictable yang luput dari film-film horror Indonesia lainnya yang teramat murahan. Horrornya tampil sangat elegan dan menakutkan. Namun.... ya cuma sebatas itu bagusnya.

Joko Anwar mengulang kesalahan yang kerapkali menjadi masalah kebanyakan film horror. Film horror mainstream biasanya terlalu sibuk menakut-nakuti penonton sehingga kedodoran dalam ngegarap naskahnya. Nonton Pengabdi Setan ini saya jadi teringat film-film horror Thailand sebangsa Shutter dan Ladda Land. Nakutin sih, tapi filmnya penuh plot hole dengan narasi yang males-malesan, ga solid, ga kohesif, dengan jalan keluar dan ending yang kelewat mudah. Akan berbeda misalnya jika Joko Anwar hendak membuat film yang penjelasannya sengaja dibuat semisterius dan seambigu mungkin, sehingga plot hole atau "motivasi kenapa" yang ada nggak akan dipermasalahkan. Contoh, film It Follows atau The Shining. Tuh kan hantunya ga jelas siapa, tapi ya ga masalah... tho emang filmnya ga bermaksud menceritakan hantunya apa dan kenapa. Beda dengan Pengabdi Setan yang di endingnya ingin "melogiskan" kenapa keluarga mereka diteror.  Belum lagi ketika Pengabdi Setan ini diakhiri dengan cara yang kesannya menggampangkan dan "lho-gitu-doank?".

Sebenarnya, naskah Joko Anwar ini potensial jika bisa disampaikan dengan lebih baik lagi Saya membaca betapa netizen ramai berdiskusi soal kenapa ini kenapa begitu, dan penjelasannya cukup logis dan seru. Namun, saya tetap merasa Pengabdi Setan ini kurang solid dan kuat dalam menyampaikan maksudnya. Jika ditanya kenapa ada banyak plot hole, saya membayangkan Joko Anwar akan "ngeles" dengan bilang bahwa doi menyiapkan jawabannya di sekuelnya. Joko Anwar tampaknya emang ingin "memperumit" ceritanya dibandingkan dengan film orinya, namun jatuhnya malah ambyar. Bandingkan misalnya dengan film The Wailing, misalnya. Film itu juga nggak jelas dan ambigu, namun setelah menonton saya tidak merasa keambiguannya itu sebagai jalan cerita yang nggak masuk akal, tapi murni karena emang misterius dan penonton bisa berdiskusi dengan positif membahas filmnya selepas nonton. Sementara Pengabdi Setan ini kayak ada kesan, "Ih apaan sih masa tiba-tiba begitu? Lho itu tadi kerasukan kok ga jadi kerasukan lagi? Lho gimana sih ngapain si Hendra dibuat mati? Lho si kakek dukun ini kok tiba-tiba muncul? Lho bapaknya tahu ga sih kalau ibunya ke sekte setan? Kalo tahu kenapa tingkahnya begitu? Si Bapak ga sholat karena sekuler/agnostik atau karena muja setan? Kenapa ngadain tahlilan? Lho masa neneknya mati bapaknya ga pulang? Lho kalo si ibunya emang pengen punya anak dengan meniduri lelaki lain kenapa harus gabung sekte, kenapa ga dengan cara normal selingkuh aja? Lho masa begitu tahu adiknya ternyata pangeran iblis mereka langsung kabur gitu aja? Keluarga macam apa itu! dan seterusnya dan seterusnya...".

Selain itu, saya merasa film horror yang bagus adalah yang bukan mengumbar adegan hantu-hantuan sebanyak-banyaknya. Itulah kenapa saya nggak suka dengan The Conjuring 2, karena film itu kebanyakan adegan hantu. Unsur paling menakutkan dalam menakut-nakuti manusia adalah kecemasan, sehingga harusnya film horror yang baik itu fokus dalam building horror and intense atmosphere, namun sekali hantu atau setannya muncul, munculinnya ngagetin dan memorable. Ketika selama proses nonton kita sudah terbiasa dengan hantunya yang muncul terus, otomatis lama-lama jadi ga takut lagi. Pengabdi Setan jadi bermasalah karena film ini sudah menakut-nakuti awal (dengan cara yang baik), tapi lalu hantunya muncul berulang kali sehingga jatuhnya jadi ga nakutin dan tidak akan terlalu mengagetkan lagi. Saya kasih contoh film-film lain yang efektif dalam teror namun "hantu"-nya cuma muncul sedikit: Orphanage, Rosemary's Baby, Dark Water, A Tale of Two Sisters, Rings, atau bahkan Audition yang adegan slasher-nya cuma muncul belakangan.  Bagaimana dengan It? It (2017) sebenarnya juga terlalu banyak "hantu", namun kemunculan hantunya sangat kreatif dan seru sehingga itu yang bikin film ini bagus. 

Saya juga bingung ketika Pengabdi Setan ini dikatakan sebagai sebuah remake, berhubung garis besar ceritanya jauh berbeda dengan film orinya. Kenapa Joko Anwar harus ngotot untuk nge-remake film ini jika ia membuat banyak perubahan? Di film orinya tidak ada si Nenek, tidak ada sekte kesuburan pemuja setan, tidak ada kuburan di dekat rumah (yang by the way, ga nyambung juga sama ceritanya selain cuma buat serem-sereman), tidak ada pangeran iblis, tidak ada latar belakang si ibu yang menakut-nakuti anaknya. Emang sih, film orinya konyol banget dalam ngasih motivasi - bahwa keluarga yang sekuler itu "lemah iman". Tapi at least film ori-nya terasa lebih solid dan kohesif dengan garis besar ceritanya. Saya justru mikir, karena Joko Anwar ngotot untuk membuat remake, maka dia harus memasukkan unsur-unsur yang ada di film ori-nya ke versi cerita dia yang baru, dan jatuhnya malah ga nyambung dan maksa. Saya merasa si ustadz dan anaknya itu ga guna-guna banget (dan please deh, itu si anak ustadz nyepik-nyepik di makam sama cewek yang habis kehilangan ibunya...). Kalaupun Joko Anwar emang sengaja ingin "meledek" bahwa ustadz tetaplah manusia biasa yang kalah kuat sama setan, dia juga tidak memanfaatkan subplot ini dengan maksimal. (Bytheway, setelah discuss ini dengan teman.. dia bilang kalau Joko Anwar menjelek-jelekkan profesi ustadz, bisa-bisa si Joko Anwar didemo orang di lapangan monas!).

(Edit tambahan: Rupanya, Joko Anwar bilang ini reboot ya? Cuma berhubung mayoritas orang nggak tahu reboot sama remake, jadi dibilanglah remake). 

Berhubung pengetahuan film lokal saya masih sedikit, saya emang belum nonton semua film Joko Anwar. Cuma saya tahu bahwa Joko Anwar selalu unggul dalam tata artistiknya, namun di sisi lain saya selalu merasa ada kesan "lebay" dalam film-filmnya. Haha. Saya menemukan problem ini lewat Modus Anomali, Kala, dan Pintu Terlarang. Entahlah. Saya mungkin kelewat nyinyir aja. Pengabdi Setan buat saya juga menawarkan hal yang sama. Apa sih yang bikin film horror Indonesia nakutin? Karena film ini lekat dengan kearifan setan-setan lokalnya yang emang terbiasa membuat kita ketakutan tiap malem Jumat. Kita selalu takut dengan kuburan, hantu orang yang sudah meninggal, hantu perempuan rambut panjang, pocong, mayat yang bangun lagi... Nah, Pengabdi Setan menampilkan ini semua dengan cukup meyakinkan - tapi membuat konklusinya dengan mengkhianati kearifan lokal. Sekte pemuja setan (occultism) dan anak iblis itu terasa sebagai folklore Barat, bukan cerita mistik lokal. Akan lebih masuk akal misalnya, jika Joko Anwar memasukkan unsur pesugihan, penglaris, kemenyan, atau bercinta dengan jin dan makhluk ghaib... kisah-kisah mistik yang sering kita baca di tabloid Posmo. 

Lalu.... saya agak terganggu dengan cast-nya. Saya bandingkan lagi dengan film The Wailing (maaf ya, saya kepikirannya film ini sih dari tadi). The Wailing itu terasa sangat realistis, karena disupport oleh cast yang terasa sangat realistis. Pengabdi Setan ini ga butuh Bapak ganteng dan kelewat muda untuk jadi Bapak mereka (malah si Bapak di film ori-nya lebih terasa realistis). Saya juga heran kenapa aktor Bront Palarae dicast sebagai sang bapak, karena mukanya yang berdarah Pakistan dan Thailand sama sekali ga "nyambung" dengan anggota keluarga lainnya (saya bilang begini pasti ditangkis dengan alesan "kan anak-anaknya bukan anak bapaknya!" Tapi seenggaknya mirip dikit donk ama neneknya, atau mau dikasih alesan mungkin si kakek orang Pakistan?"). Dan please deh itu bapak kemudaan buat punya anak umur 22 tahun (mau dikasih alesan lagi kalo si Bapak pakai susuk awet muda? Keluarga ga percaya takhayul tapi percaya susuk?). Cast lainnya bermain dengan lumayan, terutama si kecil Ian (M. Adhiyat) yang terlalu menggemaskan untuk jadi anak iblis dan yang jadi Toni (Endy Arfian), serta sang Ibu yang lebih serem pas belum jadi hantu (Ayu Laksmi). Cuma emang namanya film Indonesia ya... selalu keganjal dengan masalah dialognya yang ga natural yang bikin akting pemainnya jadi susah. Karena siapa sih orang Indonesia yang ngomong sehari-hari pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar? (dan si kecil Bondi bilang begini: "Dari luar jendela kelihatan areal pekuburan...". Ada ya anak SD bilang kata "areal"?). 

Lantas, kenapa Pengabdi Setan banyak yang bilang bagus? Jawabannya simple: karena film horror Indonesia lain kelewat jelek.

Cuma memang mudah-mudahan Pengabdi Setan ini bisa jadi standar baru bagi perfilman Indonesia untuk bisa bikin film yang bagusan dikit dan tetap disukai masyarakat. Saya harus memuji juga bahwa Pengabdi Setan bagus dalam segi horrornya, filmnya artistik dan sangat berciri khas Joko Anwar, saya juga suka desain set dan propertinya (rumahnya horror banget itu!), dan saya juga suka dress-dress cantik Tara Basro. Saya berharap pada film berikutnya Joko Anwar bisa lebih memaksimalkan script-nya lagi.

* Sebenarnya bikin film horror yang populer itu lumayan gampang lho dibandingkan bikin film-film lainnya. Selama fokus dan maksimalin horror scene-nya aja, dengan marketing yang baik, maka rata-rata penonton udah suka.\

Komentar

  1. Fyi, di Sarah Sechan, Joko Anwar bilang kalau film ini reboot.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iya! saya kemaren diprotes temen juga yang bilang kalau Joko Anwar bilangnya ini reboot. Thanks ya, sudah diedit di atas.

      Hapus
  2. Film lamanya masih sangat memorable buat gue. Suara asma Pak Karto yang nyeremin itu, bi Darsinah yang misterius. Mayat-mayat idup di akhir film juga bikin gw dulu gak bisa tidur wkwkw... ah masih lebih baik yang dulu kalo menurut gw.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha suara asma nya Pak Karto itu iconic ya emang. Sebenarnya kalo Joko Anwar beneran ngeremake jatuhnya malah serem lho, itu adegan bangkit dari kubur juga serem abiz..

      Hapus
  3. Setuju sama yang ini: (dan si kecil Bondi bilang begini: "Dari luar jendela kelihatan areal pekuburan...". Ada ya anak SD bilang kata "areal"?).

    Kalau bahasa kaku atau baku oke lah saya maklumi. Karena ini kan setting tahun 1981.
    Film2 Indonesia jadul yang sering saya tonton memang begitu bahasanya.
    Tapi untuk bahasa yang terlalu "tinggi" sulit di tolelir.
    Contohnya waktu Tony juga bicara menggunakan kata: Analogi dan metafora.
    Untuk ukuran tahun 1981, anak abg menengah ke bawah kayanya bahasanya ketinggian deh.

    Ditambah lagi suara hantu nya "hollywood" banget. Ga natural asli Indonesia.
    Contohnya dialog: "sisirin rambut ibu Tony..!"
    Suara hantu ibu mirip suara hantu di film Hollywood dengan nada bicara cepat sekali.
    Seharusnya pake suara asli ibu aja dengan nada lirih. Lebih berasa seremnya.
    Soal hantu juga yang Insidious banget.

    Peran pak ustadz juga aneh. Kalau memang Joko ga ingin ustadz jadi tokoh penyelamat seperti di film ori nya.
    Ya ga usah terlalu banyak porsinya.

    Tapi overall saya terhibur sama filmnya. Sampe 2 kali nonton.
    Walau ada beberapa bagian yang kurang memuaskan dan janggal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Porsi horrornya baik kok ya.. tapi kalo dipikirin dalem-dalem baru kerasa banget banyak yang aneh.. mudah-mudahan sekuelnya bisa lebih solid lagi :D

      Hapus
    2. Iya . Semoga segera dibuat sekuelnya untuk menjawab semua pertanyaan penonton sekaligus menutupi beberapa kejanggalan.

      Hapus
  4. Thank God ane ga kebawa hype nonton film ini di bioskop..
    Nice review mbak Niken

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga ada salahnya kok ditonton. Untuk membuktikan sendiri. Hehehe...

      Hapus
    2. Paling juga gak nonton karena penakut

      Hapus
    3. klo nulis jgn asal nyelak njing, sori banget takut krn film gitu doang.
      emang selera film lu aja yg norak2 kayaknya

      Hapus
    4. Coba nonton aja apa salahnya mas, mba niken aja walaupun sombong tp tetap nonton. Oiya mas, bahasanya yg baik dong, disekolahin ortu kan? :))

      Hapus
    5. Mas Ezra, saya kok fokusnya jadi sama kalimat "walaupun sombong...". Hahaha ~

      Dear anonim, jangan misuh-misuh ya. Nanti didatengin pengabdi setan.

      Hapus
  5. bikin review the wailing dong mbak

    BalasHapus
  6. Ini yg saya suka dari blog ini. Reviewnya selalu jujur dan dengan rendah hati mbak niken selalu bilang opininya mungkin emang subjektif.
    Soal naskah emang jadi masalah di film-film Indonesia. Semoga kedepannya film-film Indonesia bisa lebih bagus lagi.
    Bagaimanapun menurut saya Joko Anwar ini adalah salah satu sutradara terbaik yang kita punya saat ini. Teruslah berkarya Bang, bikin film-film yang lebih bagus lagi buat menghibur kita.
    Buat mbak Niken makasih udah nulis secara jujur tapi tetap berkelas lho, he..he.., ditunggu review-review berikutnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you. Iya bener, Joko Anwar bisa ngasih penyegaran di film Indo yang genrenya gitu-gitu aja.

      Hapus
  7. Kirain cuma sy di bumi Pertiwi ini yg bilang kalau film yang satu ini kurang.. skripnya itu loo, jg kurang natural,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuma horrornya emang bagus kok. Dan apalagi horror Indo sejauh ini ya jarang yang bener-bener bagus kalik ya, jadi Pengabdi Setan ini fresh banget ~

      Hapus
  8. Bener mba, ada beberapa yg mengganjal. Naskahnya terlalu baku untuk duo menggemaskan. Untuk yg pemuja iblis sm anak iblis itu barat bgt, coba kalo tentang pesugihan pasti seram bgt. Secara pribadi sih lebih suka sebelum ibu meninggal soalnya "indo" bgt hahaha. Tapi tetap mantap lah bang joko ini. Terus berkarya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menarik misalnya kalau memuja "jin" atau "kekuatan misterius". Ga usah eksplisit sebut iblis ya...

      Hapus
  9. Setuju banget kalau ibu lebih serem pas masih hidup :D
    Kurang lebih setuju sama reviewnya. Bagi yang ngarepin pure horor mungkin jadi kecewa kok jatuhnya malah jadi ke sekte sekte segala. Kayaknya gara gara pengen masuk ke universe nya film film Jokan sebelumnya.

    BalasHapus
  10. Review baby driver dong katanya filmnya bagus kalo udah di review mba niken pasti saya nonton

    BalasHapus
  11. hampir senua film kalo dicari mungkin emang ada plothole nya sih. apalagi film Indonesia. buat gw masih bisa diabaikan lah hal2 kecil kayak tahlilan (disitu diliatin ekspresi bokapnya yg terpaksa), bokap yg gak dateng pas nenek meninggal (thn 90 aja gw sempet gak punya telpon rumah lho). dll.

    yg soal kata2 "AREAL", gengges sih. pas denger juga deg! aduh salah nih. tapi entah kenapa, lupa. trus inget lagi pas baca blog ini.

    tapi major plothole yg gw rasain yg kayak mbak Niken sebut diatas, napa gak selingkuh aja? napa harus gabung cult setan? (ini gak ada yg bisa jawab. palingan jawabnya 'ntar jadinya film drama. yaelah hahaha).

    lebih baik kalo dibilang gabung cult untuk dunia karier nyanyi, umur panjang & kekayaan. bisa juga sih supaya dapet anak, tapi ya mending dibilang anak benih setan lewat sang bokap aja. lebih masuk akal.

    kalo soal artistik, ya emang menurut gw inilah artistiknya film horor. dibikin real aja.
    nggak usah lebay pake gambar2 cantik ala Jose & Rizal. Mo nonton horor apa vidio klip sik??

    makasih tulisannya mbak Niken. Enak dibaca. Sukses terus!



    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you mas Wisnu atas tanggapannya.

      Nah selain kenapa si ibu harus bercinta dengan anggota sekte lain, menurut saya yang ga masuk akal adalah keluarga mereka ninggalin si kecil Ian. Sebelumnya mereka bilang "harus bersatu" supaya tidak merelakan kepergian Ian dijemput setan. Eh, tapi begitu tau adiknya pangeran iblis langsung bye bye gitu aja... Dan katanya anak terakhir ga akan diambil setan kalo keluarga mereka ga merelakan... Heloooo.. siapa juga yg bakal merelakan anak diambil setan?

      Hapus
  12. ni film parah banget kata ustad di film itu bilang klo orang solat maka setan takut.tp ustad sendiri yg pengetahuanya tinggi tentang agama kok mati di keroyok setan.hallo kemana aja pa ustad kalimat allah dan lo suka solat kemana lo ..kenapa gk ingat tuhan wktu d serang setan.haduh.. ini kaya film ngehina islam kalimat ayat suci dan solat kayanya gk bermanfaat kesanya..gk ada efek samping sama si setannya.lg solat aja setanya gk ngerasa ke ganggu malah asyik gangguin yg solat.ni joko anwar mau hina ustad atau mau hina orang solat.atau mau hina islam soalnya kalimat penjelasan ustad itu gk ada efek apa apanya .saya gk apa klo adegan lain salah atau kurang bagus tp saya kurang terima kalau itu film di dasari agama tp agama itu tidak ada manfaatnya..pak joko anwar klo mau masukin agama coba narasi cerita yg bener jng fokus nakutin malah jd ada unsur hina agama walaupun kesanya samar...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kayaknya gak ada yg berpendapat demikian sih :D
      jangan gara2 ngeliat satu ustad disitu trus dianggap mewakili semua ustadz di Indonesia bro.
      Gw sih ngeliatnya secara filmis aja. kalo di film2 horror jaman dulu udah ketebak. Ustad dateng, baca2 dikit, setan kabur. Pakem begitu tentu udah gak bisa dipake di film jaman now.
      Mangkanya dibikin beda.

      Toh disitu juga gak dikasih liat bahwa ustad tsb seorang yg rajin shalat/puasa dll. karakter dia disitu cuma pinter nasehatin doang. Malah di adegan terakhir dirumahnya dia takut untuk membantu pas mereka diserang. Malah nutup pintu kamar. Dianjutin lagi dengan dia yg ikut gabung kerumah keluarga Ibu karena ngakunya "kesepian".

      In reality, gak semua ustad bisa ngusir setan. gak semua polisi bisa menang lawan preman dst..

      Sorry ini opini gw aja.



      Hapus
    2. Karena sesungguhnya sholat mencegah kemunkaran mas.. bukan mengusir setan...

      Hapus
    3. Saya sebagian setuju bgt dengan bung Deni Gandara.
      "Ini film bawa suatu Agama yang justru jadi bikin boomerang buat film itu sendiri rusak secara keseluruhan cerita hanya dengan kematian Ustd. Di dalam film PS itu sendiri, kenapa gak bawa-bawa zombie aja sekalian" wkwkwk

      Gak logis sama sekali dengan realitanya apalagi secara ilmiah hantu mengalahkan manusia yang baik. That's impossible right?

      Besok-besok ada lagi yang buat film hantu yang penting serem pasti laku di Indonesia yang penting serem. Wkwkwk

      World War Z walau hanya film fiksi tapi plot ceritanya luar biasa "make sense".

      Hapus
  13. Mba, utk org yg tinggal dikota mgkn krg familiar sm okultisme. Cuma di daerah2 (tertentu, tentu saja) (terutama didaerah saya) itu kental bgt terasa sih. Mgkn gk seperti yg di gambarkan mas Joko. Tapi cukup nyerempet lah. Dan fyi, ada juga kok satu keluarga yg mnggunakan okultisme dlm rangka memperoleh keturunan (alah bahasa w belibet) lol. But thanks mba, membukakan mataku utk lebih selektif dlm menonton film yg sutradara nya super pretentious ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa mungkin saya emang yg kurang familiar kalik ya. -___-"

      Kalau perjanjian dengan jin, nyi roro kidul, "penunggu misterius" gitu saya masih sering denger. Tapi kalo larinya memuja iblis nah itu saya ga pernah denger..

      Hapus
  14. Mungkin mbak kurang mencermati plot asli dari film itu. Plot film ini terlalu dalam untuk orang awam. Kunci rahasia dari film ini ada di lagu Ibu. Itu kuncinya..... its a damn plot twist.

    Welcome to Joko Anwar's world

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wiih jelasin donk mas... gpplah spoiler buat yang belom nonton..

      Hapus
    2. Di film ini kita hanya diajak pada sudut pandang ayahnya. Sangat amat 1 sisi. Antagonis terlalu diarahkan ke ibu. Ga sama sekali ngeliat dari sudut pandang ibunya. Kalau mba mencermati lagu ibu. Sebenarnya ibunya sangat sangat sayang sama ayah - dan anak2. (Dan ayahnya menghianati ibunya - baca lirik lagu kelam malam) pemeran antagonis yg asli bukan ibu. Sama sekali bukan ibu. Ibu hanya korban dari cinta matinya. Yaitu ayah, yang secara subliminal message bang joko ngumpetin kalo ayah itu anggota sekte (adegan ibu mati, ayah tidak nangis. adegan ibu sakit, ayah tidak tidur bersamanya. adegan pembacaan doa, ayah tidak bisa shalawatan. adegan ibu mati, ayah berkata dia tidak menjalankan sholat. adegan setelah ibu mati, ayah malah ke kota dengan alasan gajelas. Kurang lebih bisa mendeskripsikan ibu adalah tumbal ayah untuk sekte). Kalau mbaknya sadar. Ibu sama sekali ga ngejahatin anak ke 1 2 3. Ibu hanya "nemenin" mereka. Tapi cuma anak ke 4 yang ibu ceburkan ke sumur dan mau dibunuh pake piso sama ibu yg masuk ke tubuh anak ke 3, soalnya ibu tau anak ke 4 bakalan bahaya buat anak2 ibu kalo dibiarin idup sampe umur 7 taun. Sehari sebelum umur 7 taun. Ibu mau bawa pergi anak terakhir. Tapi ternyata ditolong sama anak ketiga. Jadi alhasil gagal. Tapi kalo mbak sadar. Di scene pas mayat pada idup. Ibu nolongin mereka untuk kabur, ibu yg ngehadang mayat idup itu di pintu. Biar keluarganya bisa kabur. Jadi konklusinya di film ini kita harus sedikit membuka perspektif lebih lebar. Ga semua yg kita tonton secara gamblang itu benar adanya. Its a matter of perspective.

      Thanks to me later. U shud say sorry to mr joko anwar now. :)

      Oia, catatan tambahan : lagu kelam malam itu liriknya buatan om joko. Emg sengaja dibuat untuk kunci utama film ini.

      Hapus
    3. Kalo nonton dengan teliti yg hadang pintu untuk mereka kabur itu si nenek bukan si ibu.

      Hapus
    4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    5. hehehehe udah nulis panjang2 taunya salah =))

      Hapus
    6. Ya mungkin saya salah, karena itu split second. Tp tentang hal yang lain gimana? Coba tunggu pengabdi jilid 2 aja yaaa. Muaaachhh..

      Sebenernya masih banyak banget yg mas joko bikin janggal. Misalnya; biji saga, kerjaan ayah apa, siapa orang lari yg nabrakin ke motor anak pak ustadz, siapa kakek kakek temennya nenek (kok dia bisa tau sekte sedalam itu?), siapa yang ngaku tukang pijet, siapa 2 orang yang di adegan terakhir ngasih makan trus dikamar ada setoples penuh biji saga, di vinyl 12inch punya ibu tengahnya ada rekaman 'blackmask' maksudnya apa ya....

      disini enaknya film joko, bisa didiskusiin panjang kalo kalian mau hehe

      Hapus
  15. To kak Tigram : seingat saya yg menghadang pintu itu nenek. Gk cm Anak ke 4 ya yg di cemplungin sumur, nenek jg di cemplungin. Krna nenek tau kebenaran Ibu yg pemuja setan. Mgkin krn itu di matiin. Sy memang sempat curiga sama bapak minta Maaf sama Ibu untuk apa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yg nahan pintu emang si nenek. tapi soal nenek masuk sumur ada 2 persepsi, diceburin atau dia nyebur sendiri utk mbunuh anak ke 4 demi nyelametin anak 1, 2 & 3 nya. Entahlah..

      Hapus
    2. Persoalan yang ibu atau nenek. Ya mungkin saya salah. Tp argumen saya yang lain coba tepis doongg~~~.... Coba deh lebih detail liatnya. Ada hantu ibu. Ada iblis. Daan Ibu cakarnya ga tajem. Yaaa... tapi intinya bebas berpendapat. Ini serunya film joko anwar, bukan cuma pengabdi yg lama cuma modal serem...

      Hapus
  16. To kak Tigram : seingat saya yg menghadang pintu itu nenek. Gk cm Anak ke 4 ya yg di cemplungin sumur, nenek jg di cemplungin. Krna nenek tau kebenaran Ibu yg pemuja setan. Mgkin krn itu di matiin. Sy memang sempat curiga sama bapak minta Maaf sama Ibu untuk apa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ibu betul masuk sekte setan. Karena di "invite" ayah. Ayah minta maaf gara2 ngajak ibu masuk dan jadi mati ga tenang. Gak ada yang tau nenek mati kenapa, bisa ibu. Bisa iblis... ada 2 setan utama kalo dicermati, satu ibu, satu iblis yang kukunya runcing.

      Hapus
  17. saran mbak..sebaiknya mbak bikin poin2x saja..karena klo gitu jadi terlalu membingungkan,terima kasih

    BalasHapus
  18. Mantap review nya detail banget haaaaaa...tapi bener mb niken subyektif bgt wkwkwkwkwk
    Tapi suka sich bacanya

    BalasHapus
  19. ga ada penjelasan yg logis kl hubungannya sama dunia klenik,dan justru hal itu yg diangkat dan buat cerita film ini menarik...pengabdi setan pertama juga ttg sekte,cm memang ga diceritakan secara jelas aja,tp dari karakter ruth palupessy di film,cukup terlihat jelas dia memang ikut suatu sekte entah dia ketua atau hanya anggota,ya cm kalo di era itu,lebih gampang kalo tokohnya di sebut dukun kali ya,so benang merahnya masih nyambung kok..ya cerita di film ini mirip2 paranormal activity siy....naskahnya bukan yg terbaik,cm ga "sebolong dan selemah" itu juga

    BalasHapus
  20. Mbak Niken,

    Kita 'Toss' banget, karena suka The Shinning dan The Wailing. Itu dua film bikin merinding. Apalagi the shinning, kalau check in ke hotel dengan lorong panjang dengan karpet jadi suka parno sendiri takut ketemu si kembar di ujung lorong hahaha...

    Makasih review Pengabdi Setan-nya.

    Salam Horror (:D)

    BalasHapus
  21. Kak Niken review film luar aj, lebih dibutuhkan, daripada film dalam negeri yg kesannya ga maju2, saya ga tertarik dengan film dalam negeri apapun genrenya dan seheboh apapun promonya
    Saya harap gda yg tersinggung, peace..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya gimana film indonesia mau maju?
      Kalo gak ada orang yang mau mendukung perfilm-an indonesia...
      Kecuali kalau filmnya banyak porno-nya....

      Hapus
  22. Bikin review tentang film Mother! dong, Mbak Nik. :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Your comment is always important to me. Share di sini!